Profil PT Bank Central Asia Tbk

Fakta Singkat

Nama Perusahaan

PT Bank Central Asia Tbk.

Tanggal Berdiri

21-02-1957

Jenis Usaha

swasta

Bidang Usaha

Perbankan

Alamat Perusahaan

Menara BCA, Jakarta, Indonesia

Official Perusahaan

Dewan Komisaris :

  1. Presiden Komisaris Djohan Emir Setijoso
  2. Komisaris Tonny Kusnadi
  3. Komisaris Cyrillus Harinowo
  4. Komisaris Raden Pardede
  5. Komisaris Sumantri Slamet

Dewan Direksi:

  1. Presiden Direktur Jahja Setiaatmadja
  2. Wakil Presiden Direktur Suwignyo Budiman
  3. Wakil Presiden Direktur Armand Wahyudi Hartono
  4. Direktur Subur Tan
  5. Direktur Rudy Susanto
  6. Direktur Lianawaty Suwono
  7. Direktur Santoso
  8. Direktur Vera Eve Lim
  9. Direktur Gregory Hendra Lembong
  10. Direktur Haryanto Tiara Budiman
  11. Direktur Frengky Chandra Kusuma
  12. Direktur John Kosasih

Tentang Perusahaan

Bank BCA didirikan sejak 1955 dengan nama N.V. Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory. Nama bank ini telah diubah beberapa kali hingga menjadi PT Bank Central Asia. Bank BCA mulai beroperasi di bidang perbankan sejak 12 Oktober 1956.  Penawaran perdana Bank BCA di Bursa Efek Indonesia dilakukan pada bulan Mei tahun 2000. Hal ini mengubah perusahaan menjadi perusahaan terbuka dan nama bank menjadi PT Bank BCA Tbk. Bank tersebut tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan menawarkan beragam solusi perbankan yang menjawab kebutuhan finansial nasabah dari berbagai kalangan.  Melalui beragam produk dan layanan, adanya solusi finansial BCA ini mendukung perencanaan keuangan pribadi dan perkembangan nasabah bisnis. Selain itu, keberadaan layanan Bank BCA didukung oleh kekuatan jaringan antarcabang, luasnya jaringan ATM, serta jaringan perbankan elektronik lainnya.  

Sejarah Perusahaan

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) (IDX: BBCA) adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Bank ini didirikan pada 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV dan pernah menjadi bagian penting dari Salim Group. Sekarang bank ini dimiliki oleh salah satu grup produsen rokok terbesar keempat di Indonesia, Djarum. Pada tahun 1955 NV Perseroan Dagang Dan Industrie Semarang Knitting Factory berdiri sebagai cikal bakal Bank Central Asia (BCA).

BCA didirikan oleh Sudono Salim pada tanggal 21 Februari 1957 dan berkantor pusat di Jakarta. Pada tanggal 1 Mei 1975, pengusaha Mochtar Riady bergabung di BCA. Ia memperbaiki sistem kerja di bank tersebut dan merapikan arsip-arsip bank yang kala itu ruangannya jadi sarang laba-laba. BCA melakukan merger dengan dua bank lain pada 1977. Salah satunya Bank Gemari yang dimiliki Yayasan Kesejahteraan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Kantor Bank Gemari pun dijadikan kantor cabang BCA. Merger itu membuat BCA bisa menjadi bank devisa. Menurut George Junus Aditjondro, anak-anak Soeharto yang memiliki saham di BCA adalah Siti Hardiyanti (Tutut) dan Sigit Jarjojudanto. Menurutnya, keduanya sempat memiliki 32 persen saham di BCA.

Awal tahun 1980an, BCA mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia agar diperbolehkan mengeluarkan dan mengedarkan kartu kredit atas nama BCA yang berlaku internasional. Untuk itu, BCA bekerjasama dengan MasterCard.[1] BCA juga memperluas jaringan kantor cabang secara agresif sejalan dengan deregulasi sektor perbankan di Indonesia. BCA mengembangkan berbagai produk dan layanan maupun pengembangan teknologi informasi, dengan menerapkan online system untuk jaringan kantor cabang, dan meluncurkan Tabungan Hari Depan (Tahapan) BCA.

Pada tahun 1990-an BCA mengembangkan alternatif jaringan layanan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri atau Automated Teller Machine). Pada tahun 1991, BCA mulai menempatkan 50 unit ATM di berbagai tempat di Jakarta. Pengembangan jaringan dan fitur ATM dilakukan secara intensif. BCA bekerja sama dengan institusi terkemuka, antara lain PT Telkom untuk pembayaran tagihan telepon melalui ATM BCA. BCA juga bekerja sama dengan Citibank agar nasabah BCA pemegang kartu kredit Citibank dapat melakukan pembayaran tagihan melalui ATM BCA.

Kinerja 

Bank BCA selama kuartal III/2020 berhasil membukukan kenaikan pendapatan bunga Rp46,53 triliun, naik 3,33% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp45,03 triliun. Beban bunga perusahaan turun 16,89% menjadi Rp8,32 triliun. Namun laba bersih tahun berjalan turun tipis 1,93% menjadi Rp19,76 triliun, dibandingkan dengan kuartal lll/2019 sebesar Rp20,15 triliun.

Total aset perseroan tercatat mengalami pertumbuhan 12,58% menjadi Rp985,85 triliun, dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp875,68 triliun. Total liabilitas dan total ekuitas juga meningkat masing-masing  13,99% dan 6,35% menjadi Rp814,24 triliun dan Rp171,61 triliun. Dengan pertumbuhan aset dan ekuitas perusahaan, nilai tingkat pengembalian aset perusahaan pada kuartal lll/2020 tercatat 3,38% dan tingkat pengembalian ekuitas sebesar 16,87%. Adapun tingkat non-performing loan (NPL) perusahaan 0,74%.  

Strategi Hadapi Pandemi

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mendukung upaya pemerintah dan tim medis dalam rangka penanganan COVID-19 di Indonesia. BCA menyatakan komitmen untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang keadaan ekonominya terdampak pandemi. Komitmen ini diwujudnyatakan melalui keikutsertaan BCA dalam program donasi kolaborasi sosial berskala besar yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

Kegiatan penyaluran bantuan bersama Bakti BCA menggalang donasi dan memperoleh dana sebesar Rp 1 miliar yang dikonversikan menjadi 10.000 paket sembako. Paket bantuan tersebut disalurkan secara bertahap kepada masyarakat yang berada di area 12 Kantor Wilayah BCA yang tersebar di seluruh Indonesia.  Keikutsertaan dalam program KSBB ini semakin memperkuat komitmen BCA untuk selalu memberi perhatian lebih kepada masyarakat, terutama di tengah kondisi saat ini. 

Baca Juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published.